Pusaka Kota, Konservasi, dan Sumber Ekonomi

KINI, negara maju dan berkembang sama-sama menyadari bahwa sumbangan kebudayaan seperti arsitektur tradisional, bentuk jalan yang unik, dan tempat bersejarah merupakan sumber ekonomi yang penting. Kota-kota dunia kini berlomba meningkatkan konservasi dan manajemen pusaka kota mereka. Sebab hal itu tak hanya penting bagi pelestarian sejarah itu sendiri tapi juga penting bagi potensi kota untuk meningkatkan pendapatan warganya, menumbuhkan daya saing sehingga menjadikan kota yang lebih hidup.

Dengan melestarikan pusaka mereka, kota-kota dunia mampu menciptakan keunikan sebuah tempat, membangun brand dan kondisi yang kuat untuk menarik investor. Khususnya investor dalam lingkup pariwisata, sebuah industri terbesar di dunia. Selain itu, meningkatkan citra dan identitas kota dengan pengenalan pada asset pusaka sudah terbukti menumbuhkan kebanggaan pada warganya sehingga memberi semangat pada komunitas untuk lebih aktif membangun kotanya.  

Demikian Katrinka Ebbe, ahli pusaka tak benda (intangible heritage) dari World Bank Washington menuliskan buah pikirnya dalam Infrastructure and Heritage Conservation: Opportunities for Urban Revitilization and Economic Development. Di masa urbanisasi yang sangat cepat ini, ia juga memperkirakan tahun depan setengah populasi dunia akan berada di perkotaan, pengembang lebih suka menghancurkan bangunan tradisional dan melenyapkan taman, pokoknya dengan populasi yang bergerak cepat, sumber daya lokal cenderung langka sementara pemerintah sibuk menyediakan infrastruktur sehingga investasi di bidang konservasi pusaka menjadi hal yang tak masuk prioritas.

Ebbe memberi contoh program World Bank yang menghubungkan revitalisasi perkotaan, pusaka, dan pariwisata termasuk peningkatan kualitas perkotaan dan rehabilitasi bangunan bersejarah. Itu terjadi di Georgia Cultural Heritage Project dengan menstimulasi revitalisasi kota tua Tbilisi. Investor swasta akhirnya merehabilitasi bangunan tua di Tbilisi, membuka hotel, restoran, pertokoan, galeri. Sementara di Xian, China, World Bank mendorong perbaikan sistem transportasi. Jalur sepeda sepanjang 44 km akan dibangun di pusat perkotaan untuk menghubungkan tempat-tempat pusaka dan mengurangi kemacetan lalu lintas.

Selain di Xian, program di Chongqing juga bisa dicontoh, di mana kualitas air dan tanah yang buruk direhabilitasi, menjaga kualitas sungai dan suplai air. Potensi bangunan bersejarah ditingkatkan untuk penggunaan yang produktif – difungsikan kembali sebagai restoran, hotel, teater, dll).

Hubungan yang sangat dinamis antara konservasi pusaka dan pembangunan ekonomi lokal terletak pada potensi asset budaya dan alam yang menarik bagi investasi pariwisata. Selama lima tahun terakhir, pariwisata secara global berkembang 7 persen, kini peningkatan itu terganggu krisis. The UN World Tourism Organisation (UNWTO) meramalkan pariwisata internasional tahun ini akan mengalami penurunan hingga 2 persen. Tapi pasar wisata petualangan dan wisata budaya merupakan dua segment terkuat dalam industri pariwisata yang akan menopang industri itu.

Lantas, mengapa Jakarta yang kaya akan pusaka sulit sekali menghidupkan kawasan bersejarahnya demi peningkatan ekonomi lokal? Dunia sudah membuktikan, kekayaan pusaka memberi pemasukan yang tak sekadar basa-basi.

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright 2011 Selebritis
Designed by MutiarabhuanaPowered by Blogger